APA MASALAHNYA BBM NAIK ?

27 05 2008

Oleh Kikam Zam

Bahan Bakar Minyak naik, rakyat menjerit. Mahasiswa turun ke jalan. Polisi memburu mahasiswa dan kampus. Pejabat desa dan bupati menolak intruksi Presiden. Tapi, aneh. Orang kaya di Indonesia semakin banyak. Orang miskin di Indonesia juga semakin banyak. Ada apa dengan naiknya BBM.

Indonesia, kini sudah tidak lagi menjadi pengekspor minyak. Tapi kini menjadi pengekspor sekaligus sebagai pengimpor BBM. Inilah yang menyebabkan ricuh didalam negeri tentang BBM. Mengapa ? karena APBN Indonesia yang tidak sebanding dengan kekayaan negerinya itu harus menyesuaikan dengan kenaikan harga BBM di dunia. Karena apabila BBM tidak dinaikan, berarti subsidi BBM dalam anggaran akan membengkak. Maka subsidi harus ditarik dengan menaikanharga BBM. Dan sebagai gantinya, maka masyarakat yang paling rentan dengan kebijakan ini akan diberikan BLT (Bantuan Langsung Tunai).
Sebuah pertanyaan yang menggiurkan untuk kita telusuri. Mengapa negeri kaya ini bisa seperti ini? Amien Rais mengatakan karena negeri ini salah urus. Benarkah itu? Melalui contoh kasus BBM ini mungkin bisa ditelusuri secara lebih mendalam.
Read the rest of this entry »





MEMAKNAI KEBANGKITAN NASIONAL

20 05 2008

Kebangkitan Nasional yang diperingati oleh bangsa Indonesia setiap tanggal 20 Mei merupakan peringatan pada suatu peristiwa yang menandai kelahiran rasa kebangsaan Indonesia yang mampu mengantarkan kepada Indonesia Merdeka. 20 Mei 1908 adalah hari, dimana saat itu organisasi Boedi Oetomo (BO) didirikan oleh Mahasiswa Pribumi di pulau Jawa. Memang ketika 20 Mei 1908 BO didirikan, rasa kebangsaan itu belum mewujud dalam bentuknya seperti dewasa ini. Sebagian ahli sejarah menyebut BO pada kali pertama didirikannya memiliki identitas kebangsaan Jawa. Artinya BO hanya didirikan untuk suku Jawa dan budaya Jawa. Sehingga ada diantaranya yang tidak setuju apabila 20 Mei 1908 diperingati sebagai hari kebangkitan nasional.
Lepas dari perdebatan tersebut, kita bisa menyebutkan bahwa peristiwa 20 Mei 1908 sudah menjadi sebuah sejarah warisan yang berharga, tidak sekedar sejarah empirik semata. Sejarah Warisan adalah sebuah peristiwa yang ditulis, disebarkan untuk selalu diingat dan dijadikan sebagai sebuah kebanggan, rasa pengikat, atau lainnya. Contoh lain dari sejarah warisan itu adalah sejarah para pahlawan sebelum era modern Indonesia (sebelum tahun 1900). Sedangkan sejarah empirik, adalah sejarah yang memang ditulis sebagaimana adanya, sesuai apa yang ditemukan melalui metodologi atau penelitian sejarah sebagai sebuah ilmu.
Berikut adalah sebuah petikan perdebatan antara Sutan Takdir Alisyahbana dan Sanusi Pane dalam buku Polemik Kebudayaan yang diterbitkan Perpustakaan Perguruan Kementrian PP dan K Djakarta, 1954 (seperti yang dikutip dalam Koran Kompas edisi 20 Mei 2008)
Sanusi Pane Mengatakan ”Tuan STA menyebut bahwa dalam zaman Madjopohit, Diponegoro, Teungku Umar, belum ada ke-Indonesian. Pikiran ini kurang benarnya pada pendapatan kami. Ke-Indonesian pada waktu itu pun sudah ada, ke-Indonesian dalam adat, dalam seni. Hanya Natie Indonesia belum timbul, orang Indonesia belum sadar bahwa mereka sebangsa.
Read the rest of this entry »





Ada Segenggam Asa di Paris

17 05 2008

Malikah adalah seorang sahabatku yang telah beberapa tahun menetap di Moskow. Seorang perawat kelahiran Grozny, Chechnya, yang memiliki tiga cahaya mata, Muhammad, Madina dan Mansur. Suaminya, Baudin Natzaev, seorang insinyur metalurgi, mantan mandor pabrik logam besar di Grozny yang sangat mahir membuat perkakas besi termasuk senjata. Sebatang pipa besi bekas dan lempeng-lempeng baja kecil plus pegas mudah saja dikemasnya menjadi sebuah ‚Kalashnikov’ yang sangat berbahaya. Namun Baudin berhati lembut dan sangat menyayangi keluarganya. Kedatangan mereka mengadu nasib di Moskow tidak lain karena tidak ada lagi kehidupan di Grozny yang telah menjadi kota mati, luluh lantak dalam perang berkepanjangan tanpa henti.

Malikah bekerja di sebuah rumah sakit di tengah kita Moskow. Pekerjaan yang mulia namun sepertinya tidak begitu dinikmatinya. Malikah merasakan bahwa dia masih dibedakan dengan orang setempat, terutama masalah gaji dan perlakuan. Dia pernah mengatakan padaku bahwa kerap kali dia keluar rumah memakai platok atau kerudung kecil ala wanita Russia. Namun masih saja dia bisa dibedakan sebagai wanita kaukasus yang sepertinya layak diasingkan.
Read the rest of this entry »